“Ternyata benar apa yang dibilang pendaki tadi, suasana dipuncak sangat berkabut dan hampir tiap 5menit debu pasir menyembur dari puncak yang terlihat jelas dari shelter terakhir, tempat aku berdiri sekarang. Setelah menikmati beberapa semburan karena ini pertama kali aku melihat langsung kejadian seperti ini, apalagi saat ini aku hanya berjarak sekitar 250meter dari puncaknya. Ughhh, menakjubkan bathinku sambil mulai mendirikan tenda dan berharap semoga esok pagi kondisi puncak sudah reda dan cuaca cerah”
Pendakian ke g.kerinci aku lakukan sewaktu masih bekerja di pulau nias pada tahun 2008, sebelumnya rencana ke g.kerinci sudah 2 kali tertunda dengan 2 alasan yang berbeda pula.
ketika tiba saat R n R, tiket penerbangan yang seharusnya ke medan aku minta untuk ditukar dengan tiket ke padang. awalnya tidak diijinkan oleh management tapi dengan sedikit negosiasi akhirnya aku dapatkan juga.
smac air, pesawat yang akan membawaku ke padang ternyata lebih kecil dari merpati tujuan medan-nias “wah pasti seru neh” kataku dalam hati dan semoga cuaca cerah selama penerbangan.
setelah lepas landas pesawat langsung berada di atas lautan dan belum sampe 1jam terbang, pesawat pun mendarat di pulau telo untuk menurunkan dan menaikkan beberapa penumpang.sesaat aku teringat ketika bencana gempa nias tahun 2005. waktu itu aku dan beberapa anggota GMPA-ITM lainnya berangkat ke pulau nias untuk melakukan kegiatan SAR bersama tim dari pemprovsu. selain ke pulau nias, waktu itu kami juga berangkat ke pulau telo dengan boat sewaan dari teluk dalam.
Tiba di bandara padang, aku langsung telpon ke unand dan beberapa jam kemudian tiba disana dan bertemu dengan beberapa pendaki yang pernah mampir di GMPA-ITM dan mendaki bareng ke G.Pintau di sumut pada tahun 2005.
Setelah 2hari dipadang, pada minggu malam selepas maghrib. aku dan tomi berangkat ke kayu aro – jambi yang berada di kaki G.Kerinci, sayang sekali karena perjalanan malam aku tidak bisa menikmati pemandangan selama dalam perjalanan dan akhirnya kami tiba sekitar jam1 malam.
Kamipun berjalan melewati hamparan kebun teh menuju pintu rimba, setelah berdiskusi kamipun memilih satu lokasi untuk mendirikan tenda. Kabut tebal membuat suhu malam ini semakin dingin mengigit tapi kami bersyukur karena tidak turun hujan hingga kami bebas memasak. setelah selesai makan tengah malam, kamipun istirahat sambil briefing untuk rencana esok hari lalu mencoba memejamkan mata sambil berharap agar cuaca esok hari bersahabat selama melakukan pendakian.
Sebelum tertidur, aku teringat lagi tentang berita di televisi tadi pagi “G.Kerinci status awas, dilarang melakukan pendakian” tapi sambil bergurau kami bilang “agh, ga percaya” sebelum liat sendiri.he227
Meski sudah pakai jacket dan sembunyi dalam sleeping bag tapi masih saja terasa dingin hingga beberapa kali kami terbangun sebelum akhirnya terlelap hingga pagi. Dan ketika mataku terbuka, hari sudah siang dan langsung keluar tenda.wah, pemandangan yang sangat menakjubkan. begitu indah dan sangat bersyukur karena cuaca cukup cerah tapi gunung itu cuma kelihatan bagian bawahnya saja, lebih dari setengahnya tertutup kabut tebal.hmm, semoga berita di televisi itu tidak benar “bathinku”
Setelah masak dan sarapan, kami langsung packing secepat mungkin dan langsung melakukan pendakian dengan terlebih dahulu berdo’a pada sang Khalik.
Setelah lebih dari 1tahun tidak pernah hiking, pendakian ini terasa sangat berat untukku.belum lagi pengaruh bobot tubuhku yang bertambah belasan kg sejak lulus kuliah, aghh. meski begitu aq tetap semangat karena sudah lama aku ingin mendaki gunung tertinggi di sumatera ini.
1 persatu 1 shelter pun kami lewati dan beberapa kali kami berhenti untuk beristirahat.kami juga bertemu beberapa pendaki yang turun dari puncak termasuk seorang pandaki dari inggris. Bagus juga nyalinya kataku dalam hati, dia mendaki sendirian (1hal yang belum pernah aku lakukan) tapi dia bilang tidak bisa ke puncak karena kabut sangat tebal. wah, sayang sekali dia terlalu mudah untuk menyerah mencapai puncak atau terlalu patuh akan safety procedure “bathinku”. Sebelum melanjutkan perjalanan masing-masing yang berlawanan arah, aku sempat mengajaknya mendaki lagi dan mencoba mencapai puncak subuh besok tapi dia menolaknya karena sudah punya jadwal lain. “Oke friend, catch u later”
Sebelum tiba di bebatuan cadas, kamipun beristirahat sambil mengisi perbekalan air yang sudah menipis, setelah air penuh dan penat mulai berkurang karena harus tiba di shelter terakhir sebelum gelap datang. Kami langsung melanjutkan pendakian dan langsung disambut batuan cadas yang basah dan berlumpur, dan keringatpun mulai mengucur agi dari pori-pori.
saat tiba di hutan perdu, pemandangan mulai cerah. terlihat awan menutupi setengah dari gunung ke bawah. namun di puncak, cuaca cerah itu tertutup debu pasir yang sangat tebal.
Meski lelah tapi kami terus mendaki dan saat tiba di shelter terakhir kami bertemu sekelompok pendaki yang sudah mendirikan tenda.
“Lestari” ucap kami dan dibalas juga oleh mereka “Lestari”
Lalu aq bertanya : ada rombongan pendaki yang naik di depan kami?
tidak ada, jawab mereka.”hmm, jd suara rombongan pendaki didepan kami yg sering aq dengar itu suara siapa?batinku” tapi aku tidak mau terlalu memikirkannya karena keindahan suasa disini sangat mengagumkan.
setelah ngobrol sebentar, kami langsung naik keatas mencari tempat camping dan menemukan tempat yang nyaman dan agak terlindung dari hembusan angin.hmmm, sejenak aku menatap kearah puncak yang berkabut.
“Ternyata benar apa yang dibilang pendaki tadi, suasana dipuncak sangat berkabut dan hampir tiap 5menit debu pasir menyembur dari puncak yang terlihat jelas dari shelter terakhir, tempat aku berdiri sekarang. Setelah menikmati beberapa semburan karena ini pertama kali aku melihat langsung kejadian seperti ini, apalagi saat ini aku hanya berjarak sekitar 250meter dari puncaknya. Ughhh, menakjubkan bathinku sambil mulai mendirikan tenda dan berharap semoga esok pagi kondisi puncak sudah reda dan cuaca cerah”
sebelum gelap, kami sudah selesai mendirikan tenda dan memasak. Selesai makan malam kami briefing untuk rencana pendakian besok. Kamipun beristirahat dan memejamkan mata. Baru tertidur sekitar 2jam, aq terbangun karena suhu dingin. jari-jari tangan serasa beku dan susah digerakkan.
lama kelamaan rasa kantukku mulai datang lagi mengalahkan rasa dingin dan aku pun….ZZZZZZZ
kreng…..!
Suara alarm mebangunkan kami sekitar jam 4.30 pagi, kami pun bersiap-siap melakukan pendakian kepuncak sambil berharap cuaca cerah dan semburan debu pasir dari puncak sudah reda. lalu aku membuka pintu tenda dan hawa dingin langsung menyerbu kami membuat tubuh mengigil meski sudah memakai jacket.diluar masih gelap dan tidak lama kemudian kami langsung bergerak menuju puncak dengan membawa perbekalan sekedarnya dan beberapa perlengkapan.
Baru beberapa menit mendaki, kami sudah diserbu semburan debu pasir dari puncak. Lalu kami mencari celah-celah untuk berlindung dan ternyata rombongan yang kami temui kemaren sore sudah ada disini dan sedang berlindung juga dari semburan debu pasir. Belum habis debu yang pertama sudah datang lagi debu berikutnya, nafaspun jadi sesak dan terpaksa harus menutup mulut dan hidung dengan syal sampe 2 lapis. Itupun masih saja tembus oleh debu yang sangat halus.
Target untuk tiba dipuncak sebelum sunset terpaksa harus ditunda karena matahari mulai keluar dari tempat persembunyiannya, meski hampir 3/4 dari tinggi gunung ini tertutup hamparan awan yang tebal tapi cuaca cukup cerah. Hanya bagian puncak saja yang tertutup kabut tebal. Setelah matahari terbit, kami putuskan untuk langsung ke puncak meskipun semburan debu pasir belum reda juga. Tanah yang kami lalui juga ternyata sangat labil, hampir setiap 2kali melangkah maka 1kali tanahnya merosot, praktis waktu yang dibutuhkan jadi lebih lama.
Seperti biasa, setiap mendaki aku selalu mengamati bentangan alam disekitar karena sewaktu-waktu akan sangat bermanfaat jika kompas tidak berfungsi.
Peluh pun mengucur deras, meski hawa masih sangat dingin tapi tetap saja tubuh kami berkeringat.
Akhirnya kamipun tiba di puncak G.Kerinci, gunung tertinggi di pulau sumatera dan tertinggi kedua di indonesia. Setelah sujud syukur, kami pun mengambil beberapa photo tapi sayang sekali karena jarak pandang hanya sekitar 10meter sehingga pemandangan lain tidak jelas terlihat. Debu pasir masih saja menyembur dan dipuncak debu itu terasa sangat tebal sehingga jejak kaki kami yang baru sekitar 10 manit yang lalu telah hilang tapi kami masih bersyukur karena debu-debu itu tidak berhawa panas.
Ketika hendak turun, rekanku baru menyadari karena kompasnya tertinggal di tenda. Agh, aku jadi teringat cerita seniorku tentang pendaki yang mati di gunung ini karena salah arah ketika hendak turun dari puncak.
Aku mencoba mengamati bentangan alam disekitarku tapi sangat tidak jelas karen tertutup oleh kabut dan ketika aku menoleh ke tomi ternyata dia sudah beranjak turun sekitar 30 meter dibawah ku. Akupun mengikutinya tapi keraguan mulai muncul dalam benakku.
Langkahnya sangat yakin dan cepat, sedang aku sengaja pelan-pelan karena masih ragu dan mengamati kontur disekitarku dan beberapa detik kabut itu lenyap terbawa angin dan akupun sadar bahwa kami sudah salan arah. Seharusnya kami turun 90 derajat disebelah kiri punggungan yang sedang kami turuni.
“Tom, salah arah” teriakku tapi dia sudah cukup jauh dan tidak bisa mendengar suaraku dan ketika dia menoleh kearahku. Aku mencoba memberi isyarat bahwa arah kami harusnya di sebelah kiri dan aku minta dia untuk berhenti, lalu aku bergegas menyusulnya.
Setelah berada di dekatnya, aku jelaskan semua tapi dia masih yakin dengan arah ini. Jadi kami putuskan untuk istirahat sambil menunggu kabut hilang dan setelah menunggu hampir 15menit, kabutpun hilang sebentar dan terlihat bahwa tenda kami tepat disebelah kiri. Setalh briefing, kami putuskan untuk memotong punggungan dan lembah karena untuk kembali kepuncak sudah terlalu jauh dan elevasi kami sekarangpun sudah hampir sejajar dengan posisi tenda.
Matahari mulai mengluarkan hawa panas saat kami melintasi lembah-lembah yang berdinding vertikal dengan dalam 2 hingga 7 meter dan sering sekali kami harus memanjat untuk keluar dari lembah dan setelah hampir 45menit kampun tiba ditenda. Saking lelahnya, sewaktu istirahat kami langsung tertidur hampir 2 jam.
Begitu terbangun, kami langsung packing dan bergerak turun agar tiba dipintu rimba sebelum gelap. Perjalanan turun jauh lebih santai, sambil menikmati pemandangan yang ada. Meski cuaca cerah tapi jalur tetap saja berlumpur dan basah, terkadang kami terpeleset dan terjatuh tapi syukurlah itu tidak membuat cedera.
Sekitar pukul 17.00 wib kami tiba juga dipintu rimba dan setelah istirahat sejenak, kami lanjutkan perjalanan melewati kebun teh yang luas menghampar bak permadani raksasa hingga tiba di tugu HARIMAU.
Sesampainya di desa kayu aro, kami langsung mencari warung makanan karena perut sudah terlalu lapar karena sejak masih dalam perjalanan turun tadi cacing dalam perutku sudah berdemonstrasi, untung saja ga sampe bakar-bakar ban didalam sana. aghh gawat kalau itu terjadi
Sambil ngobrol dengan penjaga warung, aku bertanya “kenapa disimpang jalan ke G.Kerinci itu dibuat patung harimau?” Dan ternyata disini masih banyak terdapat harimau sumatera dan paling sering terlihat dikaki G.Kerinci khususnya di kawasan shelter 1 karena konturnya masih landai. Olala….
Malam belum datang tapi hawa dingin sudah menggigit, ughhh. Kamipun numpang ke kamar mandi warga untuk bersih-bersih dan ganti pakaian (kondisi seperti ini, sosped harus dijalankan bro..!)he227
Selesai maghrib, sudah ga tahan lagi untuk tidak pakai jacket. Sambil menunggu angkutan ke padang. Kami ikut duduk di dekat api ungggun yang dibuat oleh seorang warga (sebenarnya seh, orang bakar sampah tapi ditambah lagi dengan kayu bakar biar api lebih tahan lama.)he227
Sebenarnya masih ingin mengunjungi berbagai tempat adventure dan wisata lainnya seperti danau gunung tujuh yang pernah diceritakan seniorku k’salman tapi waktu liburan ga akan cukup karena aku harus pulang keaceh sebelum akhirnya kembali lagi kenias.
Dalam perjalanan pulang, mobil yang baru beberapa ratus meter kami tumpangi tiba-tiba berhenti.ternyata ada lelaki paruhbaya yang naik dan duduk disebelah kami.
“baru turun dari kerinci ya dek?” tanya sibapak
“oh iya neh pak, asli orang sini ya pak?” jawab kami
“ iya, tadi malam nginap dimana?” lanjutnya
“ dipuncak pak, shelter terakhir” balasku
“wah, tadi malam kan ada semburan api dipuncak” katanya lagi dengan wajah kaget kayak disambar petir
“ wah yang bener pak?” jawab kami lebih kaget lagi kayak dikejar ombak tsunami.
Beberapa menit ngobro dan akhirnya kami terlelap diatas roda empat yang meluncur, menembus malam.


